Minggu, 06 Juni 2010

Hanya Satu Hari Kamerad Sehari (Saja Kawan)

Selasa, 11 September 2007

Hanya Satu Hari Kamerad (Sehari Saja Kawan) adalah salah satu dari banyak puisi yang ditulis oleh seorang penyair Indonesia yang terkenal Wiji Thukul tentang kekuatan persatuan pekerja. Melalui kekuatan kata-kata, ia telah menginspirasi banyak pemuda dan pekerja untuk berjuang melawan kapitalisme yang menindas.

Hanya Satu Hari Kamerad (Sehari Saja Kawan) adalah salah satu dari banyak puisi yang ditulis oleh seorang penyair Indonesia yang terkenal Wiji Thukul tentang kekuatan persatuan pekerja. Melalui kekuatan kata-kata, ia telah menginspirasi banyak pemuda dan pekerja untuk berjuang melawan kapitalisme yang menindas.

Lahir di Solo pada tahun 1963, Wiji Thukul adalah anak seorang tukang becak dan buruh harian sendiri. Pada awal 1990 ia menjadi terlibat dengan Partai Demokrasi Rakyat (PRD) dan dengan seniman revolusioner lainnya ia mendirikan Masyarakat Budaya Network (JAKER). kegiatan artistik-Nya selalu dekat dengan perjuangan pekerja dan penduduk miskin perkotaan di sekitarnya.

Pada bulan Desember 1995, ia hampir kehilangan penglihatannya sebagai akibat dari kebrutalan polisi ketika ia memimpin pemogokan buruh tekstil Sritex. Ia menjadi anggota dewan pusat dan PRD harus pergi bawah tanah setelah kerusuhan 27 Juli tahun 1996, bersama dengan banyak pemimpin dan aktivis PRD lainnya. Ia terus berhubungan dengan rekan-rekan dan teman-teman sampai 1998. Kemungkinan bahwa ia diculik dan dibunuh oleh militer Indonesia. Keluarga dan kawan-kawan masih berjuang untuk menemukan keberadaannya.

Di sini kita menerbitkan salah satu karyanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, untuk menunjukkan bahwa Anda dapat membunuh seorang pria, tapi Anda tidak dapat membunuh gagasannya.

Hanya Satu Hari Kawan

Oleh: Wiji Thukul (1963 - 1998)

Satu kawan membawa tiga rekan-
Masing-masing membawa lima kawan
Berapa banyak kawan yang kita miliki?
Satu kawan membawa tiga rekan-
Masing-masing membawa lima kawan
Jika kita adalah salah satu pabrik, bayangkan kawan!
Jika kita adalah satu kawan hati
Satu permintaan bersatu dalam suara
Salah satu pabrik satu kekuatan
Kami tidak bermimpi, kawan!
Jika satu pabrik bersatu dalam hati
Strike dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak, kamerad?
Jika satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu di dalam hati
Strike bersama sepuluh propinsi
Hanya satu hari kawan
Hanya satu hari kawan
Hanya satu hari kawan
Jika kita yang jumlahnya jutaan
Bersatu dalam hati dan mogok
Kemudian kapas akan tetap kapas
Karena alat tenun akan mati
Kapas akan tetap katun
tidak akan menjadi kain
seperti pelangi pabrik akan mati
Jalan juga
Anak-anak tidak pergi ke sekolah
Karena ada bis no
Langit akan tenang
Karena pesawat tidak terbang
Karena bandara meninggal
Hanya satu hari kawan
Jika kita menyerang
Dan bernyanyi bersama-sama dalam satu peringkat
Hanya satu hari kawan
Kaum kapitalis akan bergetar!



Sehari Saja Kawan

Oleh: Wiji Thukul (1963-1998)

Satu Kawan Bawa Tiga Kawan
Kawan masing-masing nggandeng lima
Sudah berapa Kita Punya Kawan?

Satu Kawan Bawa Tiga Kawan
Kawan masing-masing nggandeng lima
Kalau Kita Satu Pabrik bayangkan Kawan!

Kalau Kita Satu Hati Kawan
Satu tuntutan Suara Bersatu
Satu kekuatan Pabrik Satu
Kita Tak Mimpi Kawan!

Kalau Pabrik Bersatu Satu Hati
Mogok seratus poster Artikel Baru
Tiga Hari Tiga Malam
Kenapa tidak Kawan

Kalau Pabrik Satu Satu serikat Buruh
Bersatu Hati
Sepuluh Daerah Mogok Bersama
Sehari saja Kawan
Sehari saja Kawan

Sehari saja Kawan
Kalau Kita Yang berjuta-Juta
Bersatu Hati mogok
Maka yang bernuansa Tetap Kapas Kapas terwujud
KARENA mesin pintal akan keanaeragaman Mati
Tetap akan keanaeragaman Kapas Kapas berwujud
Tidak akan keanaeragaman berwujud menjadi kain-kain
Serupa pelangi Pabrik lumpuh akan keanaeragaman Mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak pergi Tak Sekolah
KARENA Tak Ada bis
Langitpun akan keanaeragaman sunyi
KARENA mesin pesawat berputar Tak Terbang
KARENA lapangan Terbang Mati lumpuh

Sehari saja Kawan
Kalau Kita mogok Kerja
Dan menyanyi dalam Satu Barisan
Sehari saja Kawan
Pasti kelabakan Kapitalis!